23 Februari 2009

article

PENDAHULUAN

Uraian berikut ini menguraikan suatu metode pengembangan wel as asih dan kebijakan sempurna dari seorang Bodhisattva

Di dalam ajaran agama Buddha, terdapat banyak metode yang demikian. Namun satu yang khusus akan diuraikan di sini yaitu yang disebut Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta. Ini adalah sebuah meditasi pada Avalokiteshvara Bodhisattva beserta mantraNya " Om Mani Padme Hum" yang termashur itu. Yang mula-mula mengajarkannya adalah se orang tokoh suci Buddhis asal Tibet yang bernama Tangtong Gyalbo pada abad ke-15, yang sampai saat ini masih tetap populer.

Latihan meditasi Buddhis yang melibatkan Avalokiteshvara dan mantraNya yang amat terkenal itu, banyak dilakukan oleh umat Buddha di berbagai negara di Asia sepanjang sejarah agama Buddha. Hal ini disebabkan karena Avalokiteshvara di anggap sebagai lambang welas asih yang tertinggi dari seorang Bodhisattva. Bodhisattva adalah seorang yang telah bersumpah untuk mencapai penerangan sempurna dengan mengikuti ajar an Sang Buddha, untuk dapat senantiasa menolong setiar makhluk di jagad rays ini sampai mereka semua juga mencapa penerangan. Avalokiteshvara adalah yang pertama-tama men canangkan dan berhasil memenuhi hasratNya yang mulia itu Oleh karenanya Beliau selalu menjadi panutan bagi kebanyak an pemeditasi Buddhis dalam usaha pencapaian penerangan

Avalokiteshvara adalah nama dalam bahasa Sansekerta yang berarti "la yang memiliki kemampuan untuk mengamati (semua makhluk hidup)". Juga disebut Maha Karunika (la yang memiliki welas asih yang amat besar), atau sebagai Padmapani (la yang memegang bunga teratai). Mengenai hal­oya Avalokiteshvara ini dapat kita baca pula pada kitab-kitab suci agama Buddha, umpamanya Vimalakirtinirdesha Sutra, dan Saddharma Pundarika Sutra bab ke-25. Pada Sukhavati Vyuha Sutra, Avalokiteshvara berperan sebagai Pembantu Amitabha (Buddha Cahaya Tanpa Batas), sehingga dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita kaitan Avalokiteshvara dengan "Surga Sukhavati". Karanda Vyuha Sutra berisi pen ­ jelasan tentang welas asih yang mulia dan kekuasaan yang dimiliki Avalokiteshvara. Shurangama Sutra menjelaskan metode dari Avalokiteshvara tentang meditasi dan penyadaran akan kebenaran tanpa aku. Di dalam Prajna Paramita Hrdaya Sutra (Sutra Hati) Avalokiteshvara memberi penjelasan dan mengajarkan tentang inti dari filsafat yang dalam dari non­ dualisme dan Jalan Tengah. Sedang Padmajala Tantra banyak berisi informasi tentang peranan Avalokiteshvara di dalam ajaran agama Buddha Vajrayana.

Bagian dari sumpah Avalokiteshvara untuk menolong semua makhluk hidup adalah melalui asumsi tentang berbagai perwujudan sesuai dengan kebutuhannya pada situasi tertentu. Sejalan dengan sumpah itu Beliau kerap muncul di berbagai tempat dalam berbagai peran, bentuk dan suku bangsa. Bahkan apabila dianggap perlu dapat berperan dan menampakkan diri sebagai benda mati, misalnya sebagai jembatan atau sebagai tempat berteduh. Pada ilmu perpatungan (iconography) tradi­ sional untuk patung dan lukisan Avalokiteshvara ini men­ cerminkan beberapa dari variasi ini. Namun demikian hendak­ nya difahami bahwa bentuk yang berbeda-beda itu adalah sebagai perwujudan yang beraneka dari prinsip penerangan sempurna yang sama.

Pada patung-patung India kuno, Avalokiteshvara dilukis kan sebagai seorang pangeran manusia dalam posisi berdiri dan berpakaian kebesaran. Pada patung yang lain Beliau digambar­ kan dalam keadaan duduk santai dengan posisi latitasana. Salah satu bentuk yang termashur adalah Avalokiteshvara bermata seribu dan tangan seribu pula. Anggota tubuhNya yang sebanyak itu dimaksudkan untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan makhluk hidup. Beliau bahkan dapat me­ nampakkan diri sebagai Dewa Hayagriwa dalam versi Tantra yang berwajah penuh kemarahan, pads situasi dimana untuk membangkitkan rasa welas asih diperlukan adanya dorongan yang menakutkan. Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta yang diterangkan di dalam buku kecil ini, termasuk Avalokiteshvara berkepala satu dengan empat tangan dalam posisi duduk. Ini merupakan suatu bentuk yang luar biasa pentingnya di Tibet . Adapun penjelasan terperinci mengenai Avalokiteshvara yang bertangan empat ini akan disajikan pada bab-bab selanjutnya.

Bersamaan dengan tersebarnya agama Buddha di luar India , ke negara-negara Asia lainnya, maka pentingnya peranan Avalokiteshvara meningkat dengan pesatnya. Banyak kuil-kuil besar yang memuja Bodhisattva ini dalam wujud Lokeshvara sebagai pasangan dari Shiva, dewa Hindu. Hal ini dapat disaksi ­kan di seluruh Asia Tenggara. Ke arah Utara di Nepal, dikenal 108 bentuk Avalokiteshvara sebagaimana dapat dilihat pada lukisan-lukisan yang terdapat di tempat pemujaan kuno di Katmandu . Bagi masyarakat Tibet , Avalo k i teshvara (Chenre ­ zig) adalah pujaan tertinggi umat Buddha. Banyak dari orang suci yang telah memperoleh penerangan sempurna yang ter ­tinggi dipandang sebagai perwujudan manusia dari Bodhisattva itu, terutama Dalai Lama itu sendiri. Di Timor Jauh amat ter ­ kenal pentingnya peranan Avalokiteshvara, terutama melalui sentuhan-sentuhan seni yang menampilkan Beliau dalam ber ­ bagai bentuk. Di Tiongkok, Avalokiteshvara sangat dihormati sebagai Kuan Shi Yin (Kwan Im) yang secara harfiah berarti "Pengamat Suara Dunia". Dan di Jepang Beliau disebut Kwannon. Di negara-negara Asia tali Avalokiteshvara dipuja sebagai pelindung tertinggi terhadap ketakutan, Juga sebagai Guru, dan yang utama Beliau dipandang sebagai sumber ilham bagi perwujudan welas asih sempurna yang paling dalam.

Dengan demikian, meditasi pads Avalokiteshvara mem ­ bentuk landasan bagi suatu cara yang sangat efektif dalam mengolah diri untuk mencapai penerangan sempurna. Pada Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta yang akan di ­ uraikan di bawah ini, pemeditasi diajarkan untuk memvisuali ­ sasikan Avalokiteshvara secara langsung. Teknik yang akan diuraikan ini termasuk cara bermeditasi untuk menerima berkah-berkah yang sangat kuat dari Avalokiteshvara. Pe ­ meditasi clan lingkungan tempat berlatih itu kemudian di visualisasikan sebagai telah memperoleh penerangan. Sambil membaca mantra enam suku kata, bayangkanlah bahwa semua bentuk, suara, dan pikiran kita menjelma menjadi bentuk, suara, dan pikiran Avalokiteshvara.

"Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta" ini disusun oleh Tangtong Gyalbo, seorang petapa suci Tibet yang agung yang telah kerapkali memperoleh pengalaman langsung dari Avalokiteshvara sendiri. Tangtong Gyalbo dilahirkan pads tahun 1361 di Owa Latse , Tibet Barat. Sejak kecil Beliau sangat tertarik pads filsafat Buddhisme terutama pads ajaran tentang Avalokiteshvara. Beliau memperoleh petunjuk-pe ­ tunjuk lanjutan tentang Vajrayana (Tantrayana) dari berbagai Guru Tibet dan India pads masa hidupnya, termasuk Kangapa Paljor Sherab, seorang ahli tentang Avalokiteshvara. Beliau juga menjalankan meditasi bertahun-tahun. Beliau menerima pelajaran tentang "Cipta" dan teknik-tekniknya langsung dari para Buddha, Bodhisattva, clan para Master di zaman itu. Beliau kemudian berkelana ke seluruh Tibet, dan juga ke India, Bhutan, Tiongkok, dan Mongolia untuk menyebarkan mantra "Om Mani Padme Hum" kepada para pengikutnya. Tangtong Gyalbo menyusun "Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta" atas dasar penglihatan clan pengalaman pribadi ten- tang Avalokiteshvara. Kemudian Beliau mengajarkan meditasi ini kepada murid-muridnya . Dan sejak itu secara turun temurun diwariskan dari murid ke muridnya lagi sampai saat ini. Meditasi ini berhasil dihidupkan kembali pada abad XIX di bawah kepemimpinan Jamyang Kyentse Wangbe Rinpoche dan Jamgon Kongtrul Rinpoche dan kini dipraktekkan oleh umat Buddha di seluruh dunia.

Teknik-teknik penting lainnya yang dikernbangkan oleh Tangtong Gyalbo termasuk versinya sendiri tentang Upaeara CHOD (pengikisan ego), sari Yoga Esoteris dari Dakini Niguma (kakak perempuan dari Naropa), dan metode memperpanjang usia melalui meditasi pada Amitayus. Tangtong Gyalbo sangat dicintai oleh rakyat Tibet terutama karena jembatan gantung ciptaannya yang dibangunnya di seluruh negeri. Setelah ber ­ hasil menemukan endapan biji besi dalam jumlah besar, Beliau mengembangkan suatu metode pembuatan rantai besi anti karat. Sampai kini jembatan-jembatan yang Beliau bangun dengan menggunakan rantai besi ini masih tetap bisa diper ­ gunakan.

Tangtong Gyalbo wafat pada tahun 1485 dalam usia 124 tahun. Usianya yang panjang itu membuktikan kebenaran teknik memperpanjang usia yang diajarkannya itu. Kegiatan ­ ,nya yang luar biasa bagaikan geraknya seorang Bodhisattva demi kemakmuran rakyat Tibet itulah yang menyebabkan Beliau dipandang sebagai penjelmaan Avalokiteshvara. Ke ­ mudian Tangtong Gyalbo melanjutkan hidupnya dan terlahir kembali sebagai seorang guru agama Buddha di Tibet. Sedang pada kehidupan Beliau yang sekarang adalah sebagai Druptob Hinpoche yang terlahir pada awal abad ini di Golok , Tibet Timur. Kini Druptob Rinpoche berdiam di Bhutan dan dipan d ang sebagai seorang Siddha Agung dari "Garis Keturunan jembatan Besi". Beliau melanjutkan semua ajaran Tangtong Gyalbo, termasuk "Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta" Banyak juga guru-guru lain yang memberi pelajaran meditasi ini misalnya Deshung Rinpoche di Seattle Washing ­ ton . Ada lagi Kalu Rinpoche yang mengajar di berbagai Buddhist Center yang dimilikinya di seluruh dunia, dan Lama Kunga yang mengajar pada Ewarn Choden Center Berkeley, California.

BAB I
PETUNJUK UMUM
TENTANG MEDITASI

Sebelum menguraikan tentang pelaksanaan sesungguh ­ nya dari Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta, sebaiknya dijelaskan beberapa teknik dasar bagi penerapan visualisasi dari meditasi ini. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui latar belakangnya agar dapat melaksanakan medi ­ tasinya dengan tepat. Oleh karena itu perlu dipelajari dengan baik oleh mereka yang belum terbiasa dengan meditasi Buddhis. Juga petunjuk ini dapat digunakan sebagai tambah- a n pengertian bagi mereka yang telah mempelajari meditasi namun tanpa bimbingan seorangguru yang berpengalaman dan ahli.

Dalam hubungan ini hendaknya diperhatikan bahwa tuntunan meditasi dari seorang guru Buddhis merupakan faktor yang sangat penting bagi mereka yang ingin mengikuti ajaran agama Buddha. Guru yang ahli adalah seorang yang telah banyak berpengalaman dalam melakukan meditasi Buddhis dan dapat ditelusuri siapa gurunya yang asli. Dalam masyarakat Buddhis, guru yang demikian dikenal sebagai telah mencapai tingkat penerangan tertentu dan selalu bersikap bijaksana serta penuh welas asih. Hanya guru semacam inilah yang memiliki kemampuan dalam memberikan motivasi yang tepat untuk dilaksanakan, mampu menunjukkan realisasi yang benar yang harus kita capai, mampu menjaga dan melindungi kita agar tidak sampai melakukan kesalahan latihan clan kesalahan tafsir. Dan guru semacam itu harus mampu mem ­bimbing kita untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi tepat pada waktunya. Guru merupakan faktor yang luar blase pentingnya bagi siswa Buddha Vajrayana, sebab hubungan guru dengan murid terikat erat pada kesepakatan untuk men ­ capai tujuan akhir, yaitu Kebuddhaan. oleh karena Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta termasuk dalam ajaran mashab Vajrayana, maka kepada para pemeditasi sangat di ­ anjurkan untuk mencari bimbingan, setiap seat apabila ada kesempatan, dari seorang guru yang tulen, dan menggunakan

buku kecil ini sebagai pelengkap dari petunjuk-petunjuk sang guru yang sangat berharga itu. Namun demikian, bagi mereka yang belu m memperoleh kesempatan untuk dapat berhubung ­ an dengan seorang guru yang pandai, bisa saja mempraktekkan sendiri meditasi ini sejauh kemampuan yang dimilikinya tanpa perlu maraca khawatir akan mengalami hal-hal yang berbahaya. Sesungguhnya meditasi yang khusus ini telah dirancang se ­ demikian rupa sehingga sesuai (Ian bermanfaat bagi pemula maupun bagi yang telah berpengalaman. Sebab di satu fihak meditasi ini tidak mengandung sesuatu hal yang membahaya ­ kan dari latihan esoteric yang sulit, dan di lain fihak juga tidak mengorbankan prinsip penerangan yang tertinggi

Seperti juga pads visualisasi, maka demikian pula pads meditasi ini diperlukan adanya teknik-teknik dasar untuk meditasi clan konsentrasi. Teknik semacam ini telah banyak diuraikan di dalam buku-buku Buddhis, sedang yang akan diuraikan di sini hanyalah garis besarnya saja dari beberapa pokok yang penting-penting.

A. Tempat dan Waktu.

Sekalipun meditasi itu idealnya bisa saja dilakukan di sembarang tempat, tetapi bagaimanapun juga suatu tempat yang tenang dan bersih akan mengalami gangguan yang paling sedikit pula dan hal ini sangat menguntungkan bagi para pemula. Kalau mungkin usahakanlah sebuah ruangan atau sudut ruangan yang dikhususkan untuk tempat berlatih medi ­ tasi setiap hari. Sebaiknya diusahakan satu tempat khusus yang tidak digunakan untuk kesibukan sehari-hari. Dan hendaknya dijaga untuk tetap bersih dan tidak diletakkan bends-bends yang ticlak sesuai dengan tujuan penggunaan tempat tersebut, umpamanya bends yang menonjolkan sifat keduniawian. Sebaiknya kalau mungkin, pasanglah sebuah altar dan patung serta lambang tentang ajaran agama Buddha. Kemudian diletakkan persembahan air, dupa,lilin, bungs, dan sebagainya pada posisi yang lebih rendah dari patung-patung yang ada di altar itu. Dan yang paling membantu dalam hal ini adalah apabila dapat dipasang patung atau lukisan Avalokiteshvara yang sesuai dengan yang digambarkan pads Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta.

Cara yang paling balk adalah dengan melaksanakan meditasi setiap hari secara teratur, waktunya tertentu clan lamanya bermeditasipun tertentu pula. Banyak yang senang melakukan meditasi di pagi hari benar sebelum memulai kegiatan rutin sehari-hari. Hal ini mengingat bahwa pads jam -jam tersebut pikiran setiap orang masih berada dalam keadaan yang paling tenang. Senja hari adalah juga waktu yang baik untuk berlatih meditasi. Lebih baik dibuat jadwal waktu latih ­an meditasi untuk diri pribadi masing-masing, tetapi sebaiknya memilih waktu yang tetap sehingga menjadi kebiasaan rutin setiap harinya. Tentukanlah sendiri lamanya waktu yang di ­ pergunakan untuk bermeditasi clan jangan terlampau ber ­ nafsu, agar ticlak mengalami kegagalan di kemudian hari. Bahkan berlatih meditasi hanya 15 menit setiap harinyapun sudah akan sangat bermanfaat. Mengenai lamanya waktu medi ­ tasi dapat ditingkatkan sesuai kondisi pribadi masing-masing,

B. Latihan-Latihan Lainnya .

Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta ini berisi latihan yang lengkap. Namun demikian para siswa dapat juga melakukan latihan lainnya selama waktu meditasi itu berlang ­ sung. Hal ini tentu saja hanya dapat dibenarkan apabila telah mendapat petunjuk khusus untuk itu dari sang guru. Umpama ­ nya bagi para siswa yang melakukan Kebaktian, dapat melak ­ sanakannya sebelum memulai meditasinya itu sendiri. Atau dapat juga melakukan meditasi Vajrasattva untuk pembersih ­ an batin sambil mengucapkan mantra Vairasattva yang terdiri dari 100 suku kata itu sebelum memulai dengan Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta. Urut-urutannya dan peng ­ gabungannya dari latihan yang berbeda-beds itu tergantung., pads situasi clan tujuannya, maka sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan sang guru.

C. Sikap Tubuh pada waktu Meditasi (Lihat gambar pada halaman berikut)

Sikap tubuh yang ideal untuk bermeditasi adalah duduk di lantai atau di atas bantalan dengan sikap Vajra (Padmasana). Yaitu kaki kiri di sebelah dalam clan kaki kanan di sebelah luar, keduanya diletakkan di atas paha yang berlawanan. Atau dengan sikap semi padmasana (hanya satu kaki, kanan atau kiri, yang diletakkan di atas paha), atau bahkan dengan duduk bersila secara sederhanapun dapat dibenarkan. Punggung harus tegak clan tidak tegang. Kedua tangan dapat disilangkan seenak mungkin di atas pangkuan, atau dalam mudra yang resmi untuk meditasi dengan tangan kanan ditumpangkan di atas tangan kiri clan kedua ibu jari sating menyentuh. Kepala harus tetap lurus, mata setengah terbuka dan jangan difokuskan pads apapun (kecuali apabila memang sedang dengan sengaja bermeditasi atas suatu obyek nyata di hadapan kita). Mulut tertutup wajar clan ujung lidah menyentuh langit-langit mulut.

D. Konsentrasi .

Pada meditasi-meditasi yang menggunakan visualisasi, sangat dibutuhkan kemampuan untuk tetap berkonsentrasi penuh. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa konsentrasi ada ­lah pengekangan atas melayang-layangnya pikiran sedemikian rupa sehingga mampu memusatkan pikiran tadi hanya pada

satu sasaran yaitu meditasi. Teknik-teknik berkonsentrasi banyak diuraikan secara mendalam di dalam kitab-kitab suci agama Buddha, apabila telah memperoleh beberapa pengalam ­ an tentang teknik-teknik itu tentu akan banyak membantu proses visualisasi. Maka bagi pars siswa yang belum mengem­ bangkan konsentrasiny a , dianjurkan untuk melakukan be ­berapa latihan sederhana selama beberapa minggu sebelum memulai berlatih Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta ini. Berlatih konsentrasi dengan benar clan tepat akan meningkatkan kesehatan jasmani clan memberi manfaat yang nyata pads kejiwaan.

Satu metode sederhana adalah berkonsentrasi pada per­nafasan. Duduk dalam sikap meditasi, hanya menarik dan menghembuskan nafas seperti biasa dengan irama yang paling nyaman clan wajar, jangan dipaksanakan clan jangan tegang. Jangan memikirkan apa-apa, sadari saja torus menerus proses keluar masuknya nafas, misalnya dengan menghitung dari 1 sampai 10 secara berulang-ulang.

Suatu cara lain untuk melatih konsentrasi adalah dengan menggunakan obyek yang sederhana, seperti misalnya se ­potong bahan cita berbentuk pesegi kecil atau sekuntum bunga yang sederhana. Letakkan obyek itu pads jarak 1 1 /2 meter di hadapan kits. Sambil duduk dalam sikap meditasi, pandangilah obyek itu saja secara terus menerus dan jangan memikirkan apa-apa lagi. Atau dapat jugs berkonsentrasi pada bayangan pikiran, umpamanya sebuah titik berwarna atau bahkan pada kesadaran kosong itu sendiri.

Seluruh latihan tadi semata-mats dimaksudkan untuk menenangkan dan memusatkan pikiran serta meningkatkan kesadaran. Apabila pads waktu berkonsentrasi dengan salah satu cara tadi pikiran berkeliaran ke dalam permasalahan keduniawian, atau pads khayalan, atau pads yang lain-lainnya lagi, sadarilah saja bahwa pikiran semacam itu hanyalah ilusi semata clan hapuskanlah dari pikiran kita. Sambil menyadari sifat dari semua pikiran yang kita bust sendiri itu, kembali ­ kanlah perhatian kepada meditasi lagi.

Perlu diperhatikan bahwa penghentian meditasi secara mendaclak harus dihindarkan. Perpindahan pikiran dari alam meditasi ke alam kesibukan duniawi harus dijaga agar selalu berlangsung dengan lembut dan ticlak tergesa-gesa.

Teknik-teknik konsentrasi (Shamatha, atau Dhyana, atau Zen) cliterangkan jauh lebih mendalam lagi di dalam hanyak buku-buku agama Buddha, clan clapat d ikonsultasikan guna memperoleh pengertian yang lebih mendetail. Perlu di ­tambahkan bahwa latihan Meditasi bagi Semua Makhluk di Alum Semesta yang berulang-ulang sudah barang tentu akan meningkatkan kemampuan konsentrasi kita.

E . Visualisasi

Tujuan utama visualisasi adalah untuk memindahkan kenyataan yang kita alami sendiri setidak-tidaknya pads waktu meditasi. Nalarnya demikian, makin banyak waktu berolah Latin yang dipergunakan untuk memvisualisasikan pars Buddha, Bodhisattva, clan lain-lainnya, maka keadaan ke ­ seluruhan pandangan mental kita akan memperoleh manfaat. Lagi pula karena kemampuan memvisualisasi seantero jagad telah sempurna, maka kemampuan mengendalikan perasaan akan meningkat sangat pesat, jugs days persepsi clan pengalam ­ an dalam hidup. Dasar pemikirannya adalah bahwa hal itu masih dalam batas kemampuan diri kita sendiri untuk men ­ capai penerangan. Dan dengan demikian berarti kita hidup di dunia kesempurnaan.

Pada umumnya pengembangan kemampuan visualisasi itu agak sulit dan berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan yang melekat pads diri masing-masing clan pads kemampuan masing ­ masing pula. Sebagian orang ticlak mengalami kesulitan yang herarti, sedang pads yang lain terasa amat beret. Namun yang penting adalah bahwa hendaknya pengharapan kita sederhana saja pada permulaannya. Visualisasi adalah suatu proses dalam melihat gambaran yang dengan sengaja dibayangkan secara hati-hati dan sungguh-sungguh. Dengan menggunakan ber ­ bag6i fungsi mental seperti ingatan, imaginasi, dan konsentrasi kita menciptakan secara meditatif gambaran itu dalam suatu lokasi ruang khusus. Mula-mula gambaran itu tidak jelas dan khayal, tetapi dengan berlatih pemeditasi akan "melihat" gambaran itu sejelas obyek nyata secara visual.

Banyak cara untuk mencapai visualisasi. Beberapa guru menganjurkan agar dimulai dengan mencoba memvisualisasi kan dengan suatu penglihatan menyeluruh dari gambaran yang samar-samar, lalu secara perlahan-lahan memperjelasnya, karena keakraban kita pads gambaran itu dan prosesnya makin meningkat. Guru yang lain menyarankan agar memulai visuali sasi pada bagian-bagian kecil dari gambaran itu sejelas mungkin. Kemudian secara perlahan-lahan belajar menggabungkan bagian-bagian tali menjadi sebuah gambaran yang utuh dan lengkap. Cara ini sangat membantu pada visualisasi yang lebih kompleks yang menyangkut banyak makhluk suci. Teknik ketiga adalah dengan memandang pada sebuah lukisan menge­ nai gambaran tali untuk waktu yang lama sampai visualisasi pada gambaran tadi menjadi lebih mudah.

Apapun teknik yang digunakan, hendaknya jangan ber­ kecil hati apabila visualisasinya itu pada permulaannya tidak stabil. Kerap kali para pemula mengeluh tentang banyaknya kesulitan yang dihadapi dalam melatih visualisasi. Keluhan yang umum antara lain adalah: tidak mampu membayangkan sama sekali, atau gambaran selalu berubah-ubah sebentar jelas sebentar kabur, atau pada satu saat hanya sebagian dari gambaran itu yang dapat terlihat, atau munculnya keragu­ raguan dari sudut mana seharusnya memandang gambaran itu, atau gambaran selalu meluncur hilang dari kepala (sebagai pada visualisasi atas gambaran/patung di ujung kepala dalam "Medi­ tasi bagi Semua maklhuk di Alam Semesta'j, gambaran/ patung itu bergerak-gerak semaunya sendiri dan mulai ber­ cakap-cakap, tertawa ataupun bersendau gurau. Masih ada lagi problem yang sangat umum Dari semua bentuk meditasi, misal­ nya rasa sakit pada anggota tubuh, pikiran yang melayang­ layang, mengantuk, kekacauan pikiran, keinginan untuk ber­ gerak, dan gejolak emosi yang kuat namun tidak teratur.

Jawaban bagi semua problem ini adalah sama yaitu abai kan dan jangan memperduli kannya, serta tetap terus melanjut ­ kan meditasi. Semua kesulitan tadi hendaknya dianggap sebagai suatu muslihat belaka dari sang ego yang ingin meng ­ hindar dari pengamatan yang cermat dan penghancuran total sebagai akibat keberhasilan kita dalam melaksanakan meditasi Buddhis. Sebaliknya apabila kita hiraukan, gangguan itu akan menjadi-jadi. Oleh karena itu janganlah terlampau menghirau ­ kannya, tapi justru pusatkan terus perhatian kita pada ikhtiar untuk melanjutkan meditasi itu sebagaimana biasa.

Prinsip tersebut di atas juga berlaku bagi setiap pengalaman istimewa yang mungkin kita peroleh selama berlang ­ sungnya meditasi. Juga apabila kita tidak memperoleh penga ­ laman apapun selama meditasi. Pemeditasi diingatkan untuk tidak berbangga hati atas apa yang dianggapnya sebagai suatu tanda keberhasilan, seperti misalnya mengalami perasaan yang menyenangkan, rasa hangat, melihat cahaya, dan sebagainya. pengalaman - pengalaman semacam itu memang akan muncul dalam lelapnya meditasi, akan tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang amat penting, jadi tidak perlu dikejar dan tidak perlu dihindari.

Demikian Pula halnya dengan halusinasi yang mung­kin kita peroleh, yaitu apabila suatu saat timbul pemandangan yang aneh maupun yang menakutkan. Hendaknya justru di ­ sadari bahwa itu hanyalah ilusi dan suatu keadaan yang tidak nyata, dan oleh karena itu hilangkanlah dari pandangan kita. Sedang apabila kita tidak mendapat pengalaman apapun, janganlah berkecil hati ataupun kecewa. Hendaknya selalu di ­ ingat bahwa satu-satunya tujuan meditasi itu adalah untuk mengembangkan welas asih dan pengertian. Apabila kita dapat mengalami suatu penglihatan yang jelas seperti pada waktu bermeditasi atau sekalipun hanya mengalami sedikit peningkat­ an rasa welas asih kita dalam kehidupan sehari-hari, itu hendaknya dipandang sebagai suatu hasil yang nyata dari ber ­ latih meditasi ini.

Sebagai suatu catatan akhir, perlu dikemukakan di sini hahwa visualisasi pads gambaran-gambaran patung seperti Avalokiteshvara itu mungkin terasa aneh dan sukar bagi mereka yang belum mengenal patung-patung buddhis pads ninumnya. Sehingga akan sangat membantu apabila pada tahap permulaan visualisasi itu dianggap Baja sebagai latihan untuk mengembangkan pikiran clan menyempurnakan days konsen ­ wisi. Tetapi yang justru lebih penting adalah bahwa bentuk dan atribut yang dikenakan Avalokiteshvara itu hendaknya dimengerti sebagai yang memang dirancang dengan mengguna ­ kan lambang-lambang yang paling mudah ditangkap dan kena Berta mempunyai kaftan arti dengan welas asih clan kebijakan. Lam bang-lambang ini sedikit banyak dijelaskan di dalam Ilan 3. Karena bertambahnya keakraban kita dengan bentuk dim hubungannya atas Avalokiteshvara, sehingga dimungkin ­ kan juga bagi sebagian terbesar anggota peradaban manusia miluk berhubungan dengan lambang-lambang kuno yang penuh kekuatan ini.

I Cara membaca mantra dengan menggunakan mala.

Mantra adalah ungkapan kata-kata dari suatu kesadaran allung. Mantra itu singkat clan simbolik, dan biasanya dalam bahasa Sansekerta. Sekalipun memiliki arti harfiah yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain, namun fungsi utamanya adalah untuk mengantarkan kita kepala suatu bentuk kesadar ­ an khusus melalui hanya suara suku-suku kata dari mantra itu. Dengan demikian mantra itu harus dibaca berulang-ulang sebanyak mungkin dengan pikiran yang dikonsentrasikan pads suara dari mantra itu dan pada kebijakannya yang terkandung di dalamnya. Biasanya mantra dihitung dengan menggunakan mala (tasbih).

Mala yang dipergunakan dalam agama Buddha biasanya terdiri atas 108 butir, tujuannya adalah untuk menghitung terutama apabila kita akan mencoba membaca mantra untuk suatu jumlah tertentu. Setiap kali mencapai satu putaran

penuh dihitung sebagai 100 mantra, (yang 8 adalah sebagai cadangan kalau-kalau terjadi salah ucap ataupun salah konsen­ trasi.) Lagi pula angka 108 itu biasanya dianggap sebagai angka mujur.

Mantra diucapkan sambil memegang biji mala di antara jari telunjuk dan ibu jari, (kadang-kadang cligunakan jari yang lain pads latihan yang lebih lanjut). Mala boleh dipegang de ­ ngan tangan kanan ataupun tangan kiri sesuai kehiasaan masing-masing. Setiap kali mantra selesai diucapkan, pegangan pindah ke biji berikutnya. Hitungan dimulai dari biji yang pertama di sebelah kepala mala. Apabila selesai satu putaran clan sampai pads kepala mala lagi, maka kepala mala itu jangan dihitung, tapi putarlah mala itu dan mulailah menghitung lagi dan kembali ke arah kebalikannya dari yang pertama tadi.

Biji mala dapat dibuat dari bahan apa saja. Yang paling digemari adalah yang terbuat dari biji Bodhi, demikian pula yang terbuat dari kayu gaharu. Beberapa bahan seperti gading, merjan, kristal, atau bahkan dapat terbuat dari tulang, namun hanya dipergunakan untuk keperluan yang khusus saja.

Penggunaan mala juga membantu konsentrasi pikiran kita pads mantra clan meditasi. Mala itu sendiri seyogyanya dirawat dengan hati-hati clan penuh hormat. Setiap butir mala dapat dianggap sebagai lambang seorang Bodhisattva yang kepadaNya kita tujukan meditasi itu. Seclang tali yang meng ­ hubungkan butir-butir mala itu adalah lambang dari kesadaran Bodhisattva.

G. Penggunaan ajaran meditasi ini.

Yang terdapat pads Bab 2 adalah suatu terjemahan tentang Meditasi bagi Semua makhluk di Alam Semesta dari teks aslinya dalam bahasa Tibet yang ditulis oleh Tangtong Gyalbo.

Ajaran ini menggambarkan dan menjelaskan secara tepat tentang apa yang harus divisualisasikan dan dialami di dalam meditasi. Pelaksanaan yang biasa adalah dengan membaca setiap bagian dengan perlahan-lahan. Bacalah mantra itu baik ­- baik, boleh dengan suara yang keras ataupun dengan suara lirih yang hanya terdengar untuk diri sendiri. Dan visualisasikan setiap langkah yang kita baca. Pada akhir setiap bagian boleh berhenti sejenak clan pikiran Berta basin kita meninjau ke seluruhan visualisasi yang sejauh ini telah kita lakukan. Lama ­ nya waktu yang dipergunakan pada setiap bagian tidak harus sama, sebab hal itu tergantung pads kebutuhan clan kecen ­ derungan masing-masing prang.

Selama mengucapkan mantra hendaknya diusahakan mengingat-ingat sebanyak mungkin dari keseluruhan visuali ­ sasi itu. Kita juga harus berkonsentrasi pads suara dari mantra itu dan berusaha untuk menyadari daya spiritual yang te r ­ kandung di dalamnya. Pengucapan mantra yang diikuti dengan pelaksanaan meditasi tanpa bentuk ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada meditasinya itu sendiri.

Setelah pengulangan-pengulangan mantra, selesaikanlah bacaan dan meditasinya sesuai dengan teks.

Hendaknya diingat bahwa nomor-nomor dalam tanda kurung itu adalah tambahan dari penerjemah demi memudah ­ kan pembaca untuk menandai setiap bagian dari meditasi ini. Nomor-nomor tersebut sesuai dengan penjelasan detailnya dari setiap bagian yang akan diungkapkan dalam Bab 3.


BAB II

TERJEMAHAN

Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta yang diturunkan langsung kepada Tangtong Gyalbo adalah sebagai berikut

Pertama-tama, mohon perlindungan :

(1)

Aku berlindung

dalam Buddha, Dharma, dan Sangha sampai aku memperoleh penerangan.

Semoga semua perbuatan balk yang kulakukan, seperti cinta kasih, dan lain-lainnya,

membawaku mencapai kebuddhaan, guns menolong semua makhluk.

(2)

Aku dan semua makhluk-makhluk di jagad raya teratai putih dan bulan di ujung kepala. "HRIH" di atasnya, Bari sans menjelma Yang Mulia Arya Avalokiteshvara,

putih, kemilau, memancar cahaya panca warna. Tersenyum memandang penuh karuna.

Empat tanganNya, merangkap yang dua,

mala kristal dan teratai putih di tangan lainnya. Berjubah sutera, perhiasanNya tiada tars,

memakai bulu rusa menyilang di dadaNya, mengenakan mahkota berujung Amitabha, duduk dalam sikap Vajrasana,

bersandar pada bulan purnama.

IA intinya perlindungan semua.

(3)

Bayangkan diri sendiri dan semua makhluk hidup berdoa bersama serasi selaras dan seirama .

Aku menyembah Yang Arya Avalokiteshvara IA yang tanpa cacat tanpa cela,

Bermandikan cahaya, putih warnanya, KepalaNya bermahkotakan Amitabha,

memandang semua makhluk dengan penuh karuna.

Ulangi 3 atau 7 kali, atau sebanyak mungkin.

(4)

Akibat doa yang menyatu ini,

cahaya terang memancar dari tubuh Sang Arya, menghapus semua pemunculan pikiran buruk dan pandangan yang keliru.

Alam luar menjadi Svarga Sukhavati. Sarinya yang di dalam: tubuh, ucapan dan pikiran semua insan, menjadi tubuh, ucapan, dan pikiran Avalokiteshvara. Penglihatan, suara, dan pikiran menjadi sunya bulat menyatu.

Pada waktu melaksanakan meditasi atas Doa di atas ucapkanlah mantra enam suku kata ( Om Milani Padme Hum)

(5)

Kemudian menjadi lelap dalam alam pribadi masing­ masing, suatu keadaan yang tidak dapat dilukiskan dan di luar jangkauan dari ketiga lingkaran (subyek, obyek dan perbuatan).

(6)

Kebangkitan

Rupaku dan jugs yang lain adalah rupa Sang Arya. Suaranya adalah irama enam suku kata.

Pikirannya adalah pusat kebijakan agung.

(7)

Melalui pahala ini semoga aku cepat menjadi Avalokiteshvara, dan kemudian menolong semua makhluk tanpa kecuali untuk mencapai ke tingkat itu.

Berdoa semoga pahala yang kita peroleh dipancarkan kepada semua makhluk.


BAB III

PENJELASAN

Keterangan di dalam bab ini berdasar pads tafsir tradisional Tibet tentang Meditasi bagi Semua Makluk di Alain Semesta dan atas petunjuk-petunjuk lisan yang diberikan oleh sejumlah guru kepada penerjemah (Janet Gyatso).

1. Mohon Perlindungan.

Bagian meditasi ini sebenarnya mengetengahkan dua motivasi yang sangat penting untuk berlatih meditasi Buddhis, yaitu Permohonan Perlindungan dan diiringi dengan Kebang ­ kitan Kesadaran Bodhisattva. Kedua konsep ini selalu dike ­ mukakan lebih dulu sebelum memulai setiap latihan. Dan se ­ sungguhnyalah bahwa hal ini sama sekali tidak boleh diabai ­ kan demi kemajuan kita di dalam mengikuti ajaran agama Buddha.

Permohonan Perlindungan (ketiga baris pertama dari teks meditasi) adalah pernyataan resmi bahwa tujuan per ­ lindungan terakhir atau pujaan tertinggi kita adalah Buddha, Dharma, clan Sangha. Dengan kata lain, kita berpendirian untuk berpegang pads Buddha, Dharma, dan Sangha sebagai kerangka tujuan kita yang tertinggi sampai kita mencapai kebuddhaan. Pada waktu mohon perlindungan, kita teringat bahwa Sang Buddha adalah seorang yang telah mencapai penerangan sempurna, sehingga menjadi inspirasi tertinggi bagi semua umat Buddha. Adapun Dharma adalah ajaran, filosofi, d an metode terdalam yang dibabarkan oleh Sang Buddha, dan disajikan dalam kitab-kitab suci agama Buddha. Sangha adalah Pesamuan Agung para Suci yang berikhtiar mengembangkan batin mereka untuk mencapai tingkat kebuddhaan. Oleh karena itu Buddha, Dharma, dan Sangha dipuja oleh umat Buddha dan layak memperoleh penghormatan dan pemujaan yang tertinggi.

Pada saat mengulang kata-kata dari "Permohonan Per ­ lindungan", visualisasikan bahwa diri kita dikelilingi oleh ibu, ayah, teman, musuh, bahkan sesungguhnya semua makhluk hidup, semuanya duduk bersama dan sedang bersama-sama pula memohon perlindungan. Di angkasa di hadapan kita semua, terlihat Sang Buddha dan semua B odhisattva, kemudi ­ an kitab-kitab suci yang menggambarkan Dharma, clan anggota Sangha. Kehadiran yang divisualisasikan dari makhluk-makh ­ luk ini memperkuat ikatan kita pada Permohonan Perlindung ­ an itu.

Bagi yang baru pertama kali melaksanakan Permohonan Perlindungan, maka biasanya dihadiri oleh guru spiritualnya yang menandai masuknya seseorang ke dalam agama Buddha. Oleh karena itu, pernyataan mohon perlindungan itu kerap kali diulang-ulang sebelum mulai bermeditasi, ini akan meng ­ ingatkan maksud utama clan ideal tertinggi seseorang di dalam melaksanakan meditasi.

Kebangkitan kesadaran Bodhisattva (tiga baris kedua dari bagian ke-1) adalah suatu akibat yang pasti dari Per ­ mohonan Perlindungan, dan boleh jadi ini merupakan konsep terpenting dari agama Buddha. Ini adalah suatu pernyataan

bahwa semua usaha yang kita lakukan untuk memperoleh penerangan itu adalah untuk dipersembahkan bagi kebahagiaan orang lain. Usaha ini termasuk semua aspek dari ajaran agama Buddha seperti murah hati, menolong orang lain, membaca kitab suci, mengembangkan konsentrasi dan pandangan terang, dan sebagainya. Deegan lebih dulu mengemukakan tekad bahwa semua usaha untuk mencapai kebuddhaan itu adalah demi semua makhluk hidup, maka hal ini akan membentuk su ­suatu tekad yang kuat yang mampu menembus dan mengubah segala sesuatu yang akan dihadapi selanjutnya. Tekad untuk membangkitkan kesadaran Bodhisattva ini menghindarkan kita dari kesalahan yang fatal, yaitu menggunakan meditasi ini untuk kepentingan diri sendiri.

Jadi, sebelum mulai dengan latihan yang sebenarnya, hendaknya kita menengok dulu sekejap kepada makhluk yang tidak terbilang banyaknya yang berada di alam Samsara (di dunia ini ) , dengan bermacam-macam penderitaan yang harus mereka tanggung. Menurut ajaran agama Buddha, makhluk hidup itu dibagi dalam enam golongan: dewa di sorga, raksasa yang selalu berkelahi, manusia, Binatang, setan kelaparan, dan makhluk penghuni neraka. Dipercaya pula adanya enam alam kehidupan yang sesuai dengan keenam golongan makhluk tadi. Tetapi dipandang dari segi lain, sebenarnya di dalam diri manusiapun terdapat sifat-sifat dari keenam jenis makhluk itu.

Dewa-dewa di sorga itu sebenarnya berada di alam sorga yang bersifat jasmaniah (materialistic) namun pengembangan spiritualnya kecil sekali. Mereka akan mengalami goncangan dan penderitaan yang besar apabila hidupnya berakhir serta melihat kenyataan bahwa dirinya berada dalam bahaya. Raksasa selalu terlibat dalam persaingan dan Baling menyerang karena iri hati. M er eka jugs tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan hal-hal spiritual. Binatang, pada umumnya sangat dungu dan tidak memiliki kecerdasan yang nyata. Mereka selalu terlibat perkelahian demi mempertahankan hidupnya, dan kerap kali diperbudak. Setae kelaparan men ­ derita oleh adanya dorongan keinginan yang besar namun tidak pernah dapat dipuaskan. Akibat kekikiran diri, mereka selalu rnencari-cari makanan dan perbekalan, tetapi yang mampu mereka peroleh hanyalah sekeping makanan dan pakai ­ an rusak, itupun jarang-jarang sekali. Makhluk penghuni neraka mutlak berada dalam kungkungan kebencian dan keangkara ­ murkaannya sendiri, sehingga mereka mengalami penyiksaan dan penderitaan yang luar biasa beratnya. Boleh jadi pads diri manusiapun memiliki semua jenis dari problem tadi pads ukuran tertentu. Hanya Baja rupa-rupanya manusia memiliki jumlah dan campuran yang tepat antara penderitaan dan ke ­ cerdasan, sehingga kadang-kadang mampu menembus ke ­ bodohan dan dapat mengembangkan beberapa kebajikan.

Oleh karena itu manusia diperkirakan sebagai satu-satunya kehidupan dimana dimungkinkan pengembangan ajaran agama Buddha. Mengingat bahwa jumlah manusia begitu kecil bila di ­ bandingkan dengan makhluk lainnya, maka sesungguhnya menjadi manusia adalah suatu berkah yang luar biasa besarnya dan merupakan hal yang langka. Namun demikian berbagai problem terbesar justru melanda umat manusia, umpamanya sakit, ketidaktahuan, kekecewaan, dan kematian

Sekalipun mungkin kita telah menyadari secara luas tentang adanya berbagai penderitaan, pengalaman membukti ­ kan bahwa biasanya kita gaga) mengatasi pads benturannya yang penuh di dalam kehidupan kita. Tetapi refleksi dari luasn y a penderitaan itu akan menumbuhkan rasa welas asih clan hasrat untuk meringankan penderitaan semua makhluk hidup. Hendaknya disadari akan pentingnya pengembangan kebijak ­ an yang sangat dibutuhkan untuk mampu secara efektif me ­ nolong semua makhluk hidup demi menciptakan suatu perubahan yang nyata pads kesadaran dan keadaan hidup makhluk itu semua. Dengan mengakui pentingnya kebijakan yang sempurna beserta welas asih, maka hal ini akan men ­ dorong juga menguatkan hasrat untuk bermeditasi, serta me ­ manfaatkan suatu kesempatan yang sangat berharga sebagai manusia yang sehat clan berakal untuk melaksanakan Dharma.

2. Tahap Produksi .

Sekarang kita sampai pads tahap meditasi yang sebenar-nya. Bagian ini dikenal sebagai tahap produksi, karena meng­ maikan timbulnya patung Avalokiteshvara yang divisualisasi ­ kan iitu setahap demi setahap.

marilah kita mulai kembali memvisualisasikan semua makhluk hidup di alam semesta yang tiada terbilang banyak - nya itu. Makhluk ini meliputi seantero jagad rays. Bayangkan l ah mereka berada di suatu lapangan yang sangat luas, dan Malang melaksanakan juga meditasi bersama dengan kita.

Bayangkanlah bahwa di paling ujung dari kepala kita clan kep ala semua makhluk hidup itu muncul setangkai bunga nya seolah benar-benar berada di dalam kepala kita, kemudian bunga teratai itu muncul dari dalam spa yang disebut "lubang

Brahma", yaitu ubun-ubun. Sebuah bulan berbentuk piring ­ an menempel seimbang di ujung kelopak bunga, bentuknya mirip dengan bantalan meditasi tetapi sangat rata.

Hrih, sukukata dari welas asih, dalam huruf Tibet .

Dari ujung piringan bulan itu secara tiba-tiba muncul satu suku kata "HRIH". "Hrih" ini dilafalkan sesuai bunyi ejaannya, huruf "h" di belakang menandakan hembusan nafas yang pendek pads akhir suku kata itu. "Hrih" ini dianggap sebagai perwujudan dari intinya welas asih clan kebijakan semua Buddha. "Hrih" ini boleh divisualisasikan dalam bahasa apapun, dalam bahasa Sansekerta , Tibet ataupun Latin. "Hrih" ini dibayangkan setinggi beberapa inci, berdiri di atas piring ­ an bulan clan menghadap ke depan. Warnanya putih dan sangat terang, hampir mengalahkan terangnya petir. Dipenuhi daya kekuatan dari sarinya welas asih yang sangat kuat itu. Sinar ­ Nya menerangi seluruh alam semesta.

Seorang pemeditasi melakukan visualisasi Avalokiteshvara

menurut Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta

Kemudian "Hrih" itu secara otomatis berubah menjadi wujud dari Bodhisattva Arya Avalokiteshvara (Arya = yang patut dihormati).

Avalokiteshvara berkulit putih bening bagai warna bulan di musim Gugur. TubuhNya memancarkan cahaya yang mengurai menjadi warna bianglala: putih, biru, kuning,merah, d an hijau. Kelima warna ini melambangkan elemen-elemen dasar dari dunia ini. Berkas sinarNya menerangi seantero jagad. Bodhisattva ini tersenyum kecil sambil mengamati seluruh jagad raya dengan penuh welas asih. Beliau memiliki empat buah tangan, dimana yang dua dalam sikap berdoa (namas­ kara) di dadaNya. Mudra ini mencerminkan penghormatan etas aktivitas yang tanpa betas dari Sang Buddha. Adapun kedua tanganNya yang lain, yang kanan memegang setangkai bungs teratai yang indah (merupakan lambang dari seorang Bodhisattva), yang kiri memegang male kristal (sebagai lambang welas asih yang terus menerus tiada terputuskan).

Avalokiteshvara memakai jubah tradisional terbuat dari sutera, dan mengenakan perhiasan seorang Bodhisattva, ter ­ masuk sjaal, rok, dan ga un luar dari sutera terbaik dibordir emas. Memakai anting permata, kalung, gelang, ikat pinggang clan gelang kaki. Selembar kulit rusa diselendangkan di pundak kiriNya sebagai lambang welas asihNya yang besar pada semua makhluk hidup. RambutNya diikat dengan pita berbentuk bulat dengan sisa ikalanNya dibiarkan terurai. Beliau memakai mahkota bertabur permata, di bagian depannya terdapat Buddha Amitabha dalam ukuran kecil, sebagai penghormatan pads Sang Buddha yang penting itu.

Avalokiteshvara duduk dengan sikap meditasi dalam posisi Vajrasana, yaitu kedua kaki dilipat, kaki kanan di atas kaki kiri, telapak kaki ditumpangkan di atas paha kaki yang berlawanan. PunggungNya bersandar pads piringan bulan yang lain lagi yang jugs berwarna putih dalam posisi berdiri tegak tepat di belakang Sang Bodhisattva. Bulan ini menandakan pancaran sejuk dari welas asih yang mengatasi pedihnya derita akibat keterikatan.

Penjelasan terakhir dari bagian ini memberikan petunjuk pada pemeditasi untuk menyadari bahwa Avalokiteshvara yang ada di atas kepalanya itu bukanlah sekadar sebuah patung yang divisualisasikan, tetapi benar-benar Avalokiteshvara itu sendiri. Kita harus membayangkan bahwa Bodhisattva ini memiliki sarinya clan kebijakan semua Buddha, yang menjadi obyek mulia dari semua permohonan perlindungan. Oengan demikian gambaran yang divisualisasikan itu menjadi prinsip tertinggi ajaran agama Buddha. Gambaran Avalokiteshvara yang divisualisasikan itu memiliki kekuatan yang tanpa batas, clan mampu mengadakan komunikasi langsung dengan para pemeditasi.

3. Doa pada Avalokiteshvara.

Baris-baris yang terdapat pads bagian ini adalah sebuah doa tradisional yang berisi pemujaan pads Avalokiteshvara dan ringkasan tentang ciri-ciri penting dari Sang Bodhisattva.

Sambil mengingat-ingat seluruh visualisasi terdahulu, ulang-ulanglah doa ini sebanyak mungkin. Kalimat yang ter ­ dapat pads doa itu mengungkapkan dasar pemujaan dan peng ­ agungan bagi keadaan batin yang dalam clan mulia dari Sang Bodhisattva. Ini adalah kebalikan dari keadaan pikiran diri pribadi kita dan semua makhluk di alam Samsara ini yang penuh keraguan dan hawa nafsu. Oleh karena itu kita dengan sungguh-sungguh memohon kepada Sang Bodhisattva untuk melimpahkan berkah clan kekuatan.

4. Transformasi dan Pengucapan Mantra

Permohonan clan pengharapan yang sungguh-sungguh seperti tersebut di atas tali menunjukkan bahwa pemeditasi menerima dan sanggup melaksanakan welas asih. Hal ini me ­ nyebabkan Sang Bodhisattva tergerak hatiNya untuk me ­ nolong semua makhluk di alam Samsara ini. Cahaya mulai memancar dari tuhuhN I ya clan menerangi seluruh alam Samsara. Cahaya ini memiliki kekuatan untuk menghapuskan semua penderitaan ilusif, problem, dan keraguan di duniaini, suatu keadaan yang diakibatkan oleh ketidaktahuan clan kegelapan batin. Pemeditasi membayangkan bahwa seantero alam luar (dunia jasmaniah) tersentuh cahaya ini. Setiap obyek dengan seketika berubah ke dalam aspeknya yang paling berarti dan paling indah, yaitu menjadi penghias Svarga Sukha ­ vati (Alain Kebahagiaan dimana Amitabha, Avalokiteshvara, clan para makhluk suci lainnya berada). Sebagai contoh, ruang tempat kita bermeditasi berubah menjadi istana kristal, suatu lingkungan yang sesuai bagi para makhluk yang telah men ­ capai penerangan. Sementara itu semua makhluk di dunia ini (alam dalam) diubah oleh cahaya itu, dan aspeknya yang paling sempurna berkembang penuh. Tubuh mereka menjadi sama seperti tubuh Avalokiteshvara. Apapun yang mereka ucapkan terdengar bagaikan suara mantra enam suku kata Bari Avalokiteshvara itu. Dan apa yang mereka pikir adalah semata-mata pementasan Bari kesadaran sempurna itu sendiri secara spontan. Perubahan ini sudah barang tentu termasuk diri sendiri, yaitu yang melakukan meditasi.

Dengan kata lain, semua fenomena di jagad raga ini her­ ubah seperti apa yang seharusnya terjadi apabila seantero jagad raga telah memperoleh penerangan. Cahaya Bari Bodhisattva itu membersihkan pikiran kita sedemikian rupa, sehingga

semua pertentangan keduniawian terselesaikan, dan semua pandangan, suara, Berta pikiran terlihat tanpa perbedaan dan tidak dapat dipisahkan Bari kekosongan itu sendiri.

Dalam keadaan kesadaran yang telah bersih inilah kita sekarang mengucapkan mantra. Mantra ini hendaknya dibaca berulang-ulang sebanyak mungkin, tetapi paling sedikit 100 kali. Selama waktu membaca mantra itu, pertahankan seluruh visualisasi yang sejauh ini telah diuraikan.

Sedang tentang halnya mantra itu sendiri, Om Mani Padme Hum, dipercaya sebagai berisi pemusatan Bari semua Jaya kekuatan Bari welas asih dan aktivitas Avalokiteshvara. Dengan sebenarnya dikatakan bahwa suku kata " OM " berisi bentuk dan kebijakan kelima golongan Buddha. "MANI" ber­ arti Permata, dan "PADMA" berarti bunga teratai. Dan apabila digabungkan berarti "la yang memegang Permata dan teratai" yang merupakan sebutan lain bagi Avalokiteshvara. "HUM" mempunyai fungsi dan kewajiban untuk melindungi semua makhluk di enam alam Samsara. Jadi arti mantra yang diberi­ kan secara tradisional itu adalah: "Oh Master Bari kelima tubuh dan kebijakan Buddha, Pemegang Permata dan Padma, lindungilah keenam jenis makhluk Bari penderitaan." (Perlu diingat bahwa penafsiran arti "Om Mani Padme Hum" sebagai "Hiduplah Sang Permata Dalam Teratai!" adalah sama sekali keliru.)

Mantra enam suku kata ini juga dipercaya mempunyai kaftan dengan keenam alam Samsara, enam warna, enam nafsu, enam kebijakan, dan enam Buddha. Serta masih banyak lagi penafsiran yang mungkin untuk mengartikan mantra tersebut.

Tetapi hal itu tidak penting untuk diperhatikan pads saat kita sedang membaca mantra. Dengan membaca mantra di­ mana konsentrasi terpusat hanya pads suara enam suku kata itu Baja, maka akan timbullah kekuatan yang menyatu bulat, hal inilah yang justru akan secara pasti memindahkan kebijak­ an dan welas asih Bari Avalokiteshvara kepada pemeditasi, yang berarti juga kepada semua makhluk hidup.

Catatan tentang lafal :

"Om Mani Padme Hum" dibaca sesuai dengan ejaannya dalam bahasa Indonesia . Kecuali untuk kata "Hum", yang dilafalkan hampir mendekati bunyi kata "Hung". Dalam bahasa Tibet, kata "Padme" diucapkan sebagai "Pemei", dimana suku kata pertama dilafalkan sebagai "pe" pads kata "peti" dalam bahasa Indonesia

Tahap Penyempurnaan.

dengan selesainya periode pembacaan mantra ini, maka seluruh visualisasi larut ke dalam keadaan kosong. Kemudian pemeditasi dianjurkan untuk menyadari alam yang benar dari kenyataan ini, sesuai dengan prinsip-prinsip filosofi Buddhis yang tertinggi. Bagian dari meditasi ini, yaitu hasil dari visuali ­sasi yang telah dikerjakan sejauh ini sebenarnya tidak ada perb edaannya dengan kebanyakan meditasi Buddhis yang lain, seperti misalnya Zen atau Vipashyana.

Penjelasannya adalah sebagai berikut: Karena kita telah memperoleh kebijakan sempurna dari Avalokiteshvara, maka kita menyadari relativitas semua benda-benda di jagad raya ini, ter ­ masuk halnya visualisasi itu sendiri. Kemudian hendaknya batin kita terserap ke dalam kewajarannya sendiri, yang me ­ rupakan intinya penerangan sempurna. Semua susunan mental yang saling bertentangan itu tertembusi. Baik si pelaku (agent) yang melakukan perbuatan, baik obyek perbuatan itu, maupun perbuatannya itu sendiri, semuanya tidak berarti apa-apa. tiada sesuatupun yang patut dilekati, ticlak pula pads keadaan yang menyenangkan dari kejernihan itu sendiri. Sebaliknya, b iarkanlah diri kita berada dalam alamnya sendiri yang me rupakan kenyataan yang paling mendasar. hendaknya kita tetap bertahan pads keadaan tanpa ego ini selama mungkin, karena ini adalah bagian yang terpenting dari meditasi.

Bangkit keluar dari Meditasi.

Keluar dari keadaan penyerapan ini, kita melihat dan merasakan segala sesuatu sebagai bagian dari Mandala (alam yang dialami) Avalokiteshvara. Kita memandang semua makhluk dan bentuk sebagai Avalokiteshvara, semua suara bagaikan bunyinya mantra enam suku kata itu, dan semua pikiran menjadi bagian dari welas asih dan kebijakan Avaloki ­ teshvara. Diilhami oleh pengalaman dari meditasi itu, kita me ­ mandang kenyataan dengan cara baru yang mendalam dan mulia, dimana segala sesuatu terlihat dalam aspeknya yang paling sempurna.

Jadi hendaknya kita memadukan kenyataan-kenyataan yang kita peroleh selama bermeditasi ke dalam kehidupan kita sehari-hari sebanyak mungkin. Ini berarti bahwa kita menghindarkan diri dari pemikiran yang saling bertentangan d an dari kemelekatan pada obyek yang bersifat jasmaniah. Sebagai gantinya, kita hendaknya justru mengembangkan welas asih, keramah-tamahan, dan sifat gemar menolong pada semua makhluk hidup dan tidak pernah lupa akan sifat ilusif dari semua fenomena.

Membagikan Berkah yang diperoleh.

Sudah menjadi tradisi dari semua latihan meditasi Buddhis, bahwa waktu meditasi itu ditutup dengan pernyataan untuk membagi-bagikan setiap pahala apapun yang kita per ­ oleh sebagai hasil dari latihan meditasi itu kepada semua makhluk hidup. Seperti halnya pada permulaan meditasi, maka kita kembali pada tujuan meditasi Buddhis yang adalah bagi kebahagiaan semua makhluk, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Kita bersumpah untuk sungguh-sungguh men ­ jadi seorang Bodhisattva seperti Avalokiteshvara agar dapat menolong semua makhluk hidup untuk juga mampu men capai keadaan batin yang terbebas dari kekotoran.

Sebagai catatan akhir, kiranya cukup relevan untuk di ­ utarakan beberapa pokok tentang pelaksanaan dari welas asih dalam kehidupan sehari-hari. Segera terlihat jelas bagi pe m editasi bahwa untuk mengerti tentang cara hidup yang paling tepat dan paling kena agar dapat menolong semua makhluk hidup itu adalah sama sekali bukan hal yang mudah. Gerak Bodhisattva selalu ditujukan kepada pencapaian penerangan tertinggi bagi semua makhluk hidup. Namun untuk mampu mengerti tentang cara yang terbaik yang menuju ke arah sasar ­ an yang mulia itu kerap kali banyak dibutuhkan kebijaksanaan d an kecakapan. Dalam hal inilah Bering terjadi para pemula membuat kesalahan, seperti misalnya kita suclah pasti tidak ingin "membantu" pencuri untuk melakukan kejahatan. Secara umum dapat disarankan agar jangan hendaknya welas asih itu justru menambah dorongan egoisme pads diri orang lain, atau justru mendorong mereka untuk menjadi semakin kacau dalam gejolak emosi.

Oleh karena itu sangat penting bagi para pemula untuk memusatkan perhatiannya terutama pada sikap batin dan untuk berlatih meditasi secara teratur. Janganlah kita mem ­ buat rencana yang terlampau muluk-muluk, atau berkhayal dengan merasa diri sendiri sebagai juru selamat yang agung bagi semua makhluk hidup. Sekalipun memang benar bahwa hasrat hati sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita yang dalam itu, namun sebaiknya perubahan tingkah laku kita jangan ter ­ lampau menyolok dulu. Kita dapat secara sederhana mencoba untuk bersikap secara umum lebih ramah. Dan jangan lupa untuk juga bersikap ramah kepada binatang, hindarilah pem ­ bunuhan, sekalipun hanya atas kutu-kutu busuk. Dengan makin mampunya kita mengendalikan emosi clan problem sedikit demi sedikit, serta sedikit sekali kemelekatan pada ego, maka keadaan serta kebutuhan orang lain maupun makhluk lain akan tertampak lebih jelas pads kita.—

MANTRA SERATUS SUKU KATA DARI VAJRASATTVA

OM AVALOKITESVARA SAMAYA (1), MANUPALAYA (2), AVALOKITESVARA TVENOPATISTA (3), DRITHO ME BHAVA (4), SUTOSYA ME BHAVA (5), SUPOSYA ME BHAVA (6), ANURAKTO ME BHAVA (7), SARVASIDDHI ME PRAYACCHI (8), SARVA KARMA SUCA ME (9), CITTAM SREYAH KURU HUM (10), HA HA HA HA HO (11) BHAGAVAN AVALOKITESVARA MA ME MUNCA (12) AVALOKITESVARA BHAVA (13), MAHA SAMAYA ­ SATVA (14), AH HUM PHAT (15).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar